So Aja

Baca online: cerpen, puisi, naskah drama, surat

0 Komentar 29/06/13 | @ 11.08

Cerita Sebelumnya:


AKHIR SEBUAH PERAN (Bagian 4)

Hingga beberapa hari Ami tidak mau keluar kamar bahkan untuk makan sekalipun. Orang-orang rumahnya sampai kewalahan membujuk Ami. Makanan yang diantar ke kamarnya juga tak tersentuh. Ami yang terlihat begitu tegar di depan Andi ternyata sangat rapuh. Hatinya benar-benar hancur menjadi kepingan-kepingan yang sangat sulit untuk dijadikan utuh lagi. Sore ini ia kembali menangis sekeras-kerasnya. Hal yang paling membuatnya sedih adalah Sally, ketidakpercayaannya pada Sally, prasangka buruknya pada sahabat baiknya, tuduhan-tuduhan kasarnya, semuanya membuatnya muak pada dirinya sendiri. Ia merasa kesalahannya pada Sally tidak lagi dapat dimaafkan. Ami semakin tidak bisa mengendalikan emosinya, dia banting semua pemberian Andi. Ia muntahkan kenangan-kenangan manisnya bersama Andi yang hanya berlangsung belasan hari itu lewat sumpah serapahnya.

Tiba-tiba terdengar pintu kamarnya diketuk. Ami segera menyusup air matanya, tapi tak juga beranjak dari posisinya yang telungkup.” Mi, boleh aku masuk?” tanya pengetuk suara yang ternyata Sally. Ami terperanjat mendengar suara itu. Ia tidak menyangka Sally masih mau datang ke rumahnya.” Eh, kamu Sall, boleh, masuk aja!” kata Ami sambil bangun dan menyunggingkan senyum yang hambar karena ada rasa sangsi di hatinya Sally datang sebagai sahabat, bukan musuh yang dendam.” Kamu masih marah?” tanya Sally begitu mereka berhadapan. Sally duduk di sebelah Ami, di atas kasur yang lusuh dan pulau-pulau air mata yang terbentang di atasnya. Ami agak risih dan malu. Ami juga kaget mendengar pertanyaan itu, apa ia tidak salah dengar, seharusnya ia yang bertanya seperti itu. Ami kembali menangis,” Nggak Sall, kamu yang seharusnya marah padaku! Aku sudah tidak mempercayaimu, sahabatku sendiri, dan aku juga telah menuduhmu dengan keji. Aku nggak pantas disebut sahabat Sall! Maki-maki saja aku! Kamu jangan bersikap seperti ini, ini malah membuatku semakin merasa bersalah!” katanya dalam isak. Sally segera memeluk Ami,” Aku nggak pernah bisa marah sama kamu Mi, kamu sudah kuanggap saudara kandung sendiri”.

“Ternyata aku begitu bodoh Sall. Aku malah mempercayai buaya seperti dia. Aku mengkhianati persahabatanku demi buaya. Aku nggak layak dimaafin, jangan maafin aku Sall, aku mohon!” Ami mencoba melepaskan pelukan Sally, tapi pelukan itu malah semakin kuat.” Nggak Mi, jangan ngomong gitu! Kamu nggak bodoh, Andi aja yang brengsek. Bukan kamu aja korbannya. Dan aku nggak mau gara-gara masalah seperti ini persahabatan kita hancur. Aku dan kamu tetap sahabat seperti dulu”. Sally melepaskan pelukannya lalu menghapus air mata Ami dengan tangannya sendiri.” Udah, jangan nangis terus! Eh, kamu tahu nggak, waktu pulang dari sini setelah kejadian itu , aku ngikutin Andi lho. Setelah tahu tempat-tempat dia biasa nongkrong, dari situ aku selidiki dia,” Ami menyusut air matanya yang masih tersisa, ia mulai fokus pada cerita Sally,” dari situ pula aku tahu dia punya banyak cewek . Andi pandai mengatur jadwal biar nggak bentrok. Ya udah, aku kasih tau aja ke semua ceweknya kalau Andi itu playboy. Uh, aku seneng banget, mereka semua berhasil mergoki Andi ma cewek lain. Otomatis deh, dia diputusin ma cewek-ceweknya”.” Oh ya? Rasain tuh!” jawab Ami, ada binar kemenangan di matanya.” Jadi, kita tetap sahabat kayak dulu nih?” tanya Ami.” Emang mau sahabatan kayak gimana lagi? Mau lebih erat? Boleh!” jawab Sally kembali memeluk Ami, menyalurkan hangat persahabatan mengaliri hati dan raga. Kedua sahabat itu akhirnya beruarai dalam tawa. Sore yang cerah mengiringi cerah hati keduanya. Menuntaskan cerita cinta palsu dan duka karenanya. Sang waktu mengakhiri peran sang aktor laga dan mengubur kisahnya dalam kisah baru yang kini mulai ditulis dalam kertas yang baru pula.

* * * * *
T A M A T

By: Lilis Anifiah Zulfa

Label: ,

0 Komentar | @ 11.07

Cerita Sebelumnya:


AKHIR SEBUAH PERAN (Bagian 3)

“Nggak, nggak mungkin!” teriak Ami mendengar cerita Sally tentang kejadian sore kemarin.” Nggak mungkin!” teriaknya lagi. Sally menarik nafas panjang. Ada sesal di hatinya ketika melihat wajah Ami yang mendung. Ia mengutuk dirinya sendiri akan keputusannya sore ini datang ke rumah Ami dan menceritakan kebusukan Andi.” Ya mpun Mi, mana mungkin aku bohongin kamu? Kamu kenal aku sejak kecil! Andi itu buaya!” kata Sally pelan.” Tapi itu nggak mungkin Sall, Andi orangnya baik dan selama ini dia tidak pernah menunjukkan gelagat seperti yang kamu bilang barusan! Atau jangan-jangan kamu ingin merebut Andi dariku dengan membuat cerita bohong?” Sally melotot mendengar pertanyaan itu, ada perasaan sedih yang tak terucapkan. Ia berharap ia hanya salah dengar. Ia kecewa ternyata Ami meragukan kesetiaan persahabatannya. Ami sendiri sebenarnya menyesal telah mengatakan hal itu, dia sangat mengenal dan menyayangi Sally, sahabat sejak kecil yang selalu dipercayainya sampai beberapa detik yang lalu ketika Sally menceritakan kebusukan Andi. Namun cinta Ami yang begitu besar pada Andi menutup semua logika yang ada. Ada keinginan untuk percaya pada Sally tapi ia juga takut kehilangan Andi, cowok yang mengenalkannya pada cinta.” Terserah kamu Mi, aku dah berusaha menjelaskannya padamu. Aku hanya tidak mau kamu dibodohi oleh buaya seperti Andi. Aku sayang ma kamu Mi!” ketika mengatakan hal itu, air mata Sally bergulir melewati pipinya yang dipoles make-up tipis. Lalu ia beranjak dari duduknya dan melangkah keluar dari kamar Ami. Sebetulnya Ami ingin sekali menahannya, tapi lagi-lagi cinta itu menghalanginya, cinta pada Adi yang baginya adalah cinta sempurna. Ami lebih sulit percaya lagi mengingat perkenalan Andi dan Sally yang masih berumur dua minggu, mana mungkin secepat itu, pikirnya. Tapi bukankah dia dulu juga hanya butuh perkenalan dan pedekate yang sangat singkat?” Tidak, aku juga tidak mau kehilangan Sally”, kata Ami dalam hati.

Akhirnya Ami memutuskan untuk mengejar Sally, tapi langkahnya terhenti di tangga ketika terdengar percakapan di ruang tamu rumahnya. Suara-suara itu sangat akrab di telinganya. Ami memutuskan untuk bersembunyi untuk mendengarkan percakapan tersebut.” Gimana Sall, tentang tawaran Andi kemarin? Soalnya kalau kamu setuju, ini hari Andi akan mutusin Ami”. Jantung Ami berdegup keras, ia melangkah sejengkal untuk mengintip, benar saja, di ruang tamu itu ada Sally dan Andi.” Duh, gimana ya, soalnya aku belum bisa percaya ceritamu tentang Ami” jawab Sally masih mencoba menahan diri.” Percaya deh ma Andi! Ami itu memang gadis yang tak tahu diri! Malah dia pernah ngancam mau bunuh diri kalau Andi nggak terima cintanya. Lagian, dari cara ngrayunya, udah kelihatan kalau dia itu cewek mata duitan!”. Hati Ami sangat panas mendengarnya. Ia ingin keluar dari persembunyiannya untuk melihat reaksi Andi, tapi ia urungkan niatnya. Ia ingin mendengar percakapan selanjutnya.” Gimana Sall? Andi bener-bener sayang ma Sally. Andi belum pernah merasakan ini sebelumnya pada cewek manapun. Masa Sally masih nggak percaya? Sejak melihat Sally pertama kali aja, Andi dah deg-degan, apa namanya coba kalau bukan cinta?”. Sally tersenyum sinis mendengar rayuan Andi.” Huh, asal kamu tahu ya Ndi, aku tuh dah kenal Ami sejak kecil, aku tahu sifat-sifat dia! Aku juga tidak mungkin mengkhianati sahabatku sendiri demi buaya darat kayak kamu!” kata Sally sambil berlalu meninggalkan Andi yang terbengong-bengong.” Ini kesempatan aku keluar” kata Ami dalam hati.

“Ya udah, dasar cewek galak, bego, diajak enak nggak mau! Emangnya Andi sedih ditolak ma kamu! Masih banyak cewek yang mau dengan cowok seganteng Andi!” teriak Andi pada Sally yang tak lagi menoleh.” Ada apa Ndi?” tanya Ami yang tiba-tiba sudah ada di belakang Andi. Andi terperanjat,” Ah, enggak, e…, ini lho, Andi sedang menghafal dialog drama buat besok di kampus” jawab Andi gugup.” Judulnya apa?”, tanya Ami tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.” E.., judulnya…, judulnya…, apa ya?” tanya Andi pada diri sendiri.” Oh iya, anu, judulnya Sang Playboy!” kata Andi akhirnya setelah beberapa lama.” Sang playboy yang udah punya pacar, tapi menggoda teman pacarnya, dan ditolak?” tanya Ami lagi masih tenang.” Ya, ya, betul! Kamu kok tahu sih?” jawab Andi sekenanya, tapi ada kegugupan di wajahnya.” Ya tahu dong, aku kan berperan jadi pacar playboy itu” kata Ami mulai kasar.” Maksud kamu Sayang?” tanya Andi pura-pura tidak mengerti.” Si pacar dimaki-maki di depan temennya, demi mengambil hati cewek itu kan? Tapi sayang cewek itu lebih mencintai persahabatannya, iya kan?” lanjut Ami tidak memperdulikan pertanyaan Andi.” Sayang, pasti ini cerita si Sally kan? Jangan percaya ma dia Sayang! Dia itu cewek bermuka dua. Lidahnya tajam. Emangnya dia bilang apa aja ke kamu? Dia pasti cerita yang enggak-enggak tentang Andi ya? Dia pasti bilang kalo Andi ngerayu dia, padahal dia yang ngerayu Andi. Malah dia nyuruh Andi untuk mutusin Yayang” kata Andi sambil merangkul Ami yang hanya diam. Tetapi di luar dugaan Andi, Ami menyentakkan tangannya,” Oh ya? Tega bener tuh temennya? Atau si playboy yang kata-katanya nggak bisa dipegang?”.

“Lho, kamu kok malah percaya ma Sally sih daripada ma Andi, pacar Ami sendiri? Padahal Sally dah ngejelek-jelekin Ami lho!”.” Akhir ceritanya gini kan?” tanya Ami sambil menampar pipi Andi keras-keras.” Lho, kamu kok jadi gini sih sayang?” tanya Andi yang meringis kesakitan. Ia pegangi pipinya yang memerah.” Lho, kenapa? Akhir ceritanya kan gitu? Terus gini kan, dasar playboy! Hubungan kita sampai di sini! Selamat tinggal!” Ami mendorong keluar rumah tubuh Andi yang masih terpaku tidak percaya. Ami kemudian mengunci pintu dari dalam dan berlari ke kamarnya.” Sayang, dengerin dulu dong! Akhir ceritanya si playboy sadar dan berbahagia bersama pacarnya!” teriak Andi sambil menggedor-gedor pintu, tapi semuanya hanya sia-sia. Ami tak pernah keluar dan Andi juga tidak menyadari ada kejutan lain untuknya.

* * * * *
B E R S A M B U N G

Label: ,

0 Komentar | @ 11.06

Cerita Sebelumnya:


AKHIR SEBUAH PERAN (Bagian 2)

Sesampainya di taman sore harinya, Sally sudah melihat Andi yang cengar-cengir kayak orang nggak waras.” Hallo nona manis…”, sapa Andi begitu mereka berhadapan.” Sore juga tuan Andi,” jawab Sally singkat saja. Meski matahari tak lagi terik dan angin bertiup sepoi-sepoi menerpa pohon-pohon rindang tempat dia berdiri, tapi bagi Sally udara saat itu sangat panas. Andi mempersilakan Sally duduk di bangku taman yang sedari tadi dia duduki.” Ada apa sih ngajak keluar segala?”, tanya Sally masih dengan ekspresi kesal.” Enggak, Andi cuma mau minta tolong sama Sally,”. Dahi Sally berkerut mendengar jawaban itu.” Minta tolong? Minta tolong apa?”tanyanya tidak mengerti.” Gini lho, sebenarnya Andi tu tidak suka sama Ami,” Sally terperanjat, ia langsung berdiri dan menatap Andi dengan pandangan yang sangat jijik,” Lalu kalo nggak suka kenapa kamu pacaran ma dia?” tanyanya tidak sabar.” Tenang, tenang dulu! Sally duduk dulu!” kata Andi sambil menuntun Sally untuk duduk. Sally tidak menolak, tapi wajahnya masih sarat dengan kebingungan.” Gini Sall, gimana aku nggak mau, wong Aminya itu ngejar-ngejar terus. Aku kan tipe cowok yang nggak tegaan ma cewek, apalagi jika dia ngejar-ngejar ampe nangis segala”.” Masa sih?”, pancing Sally. Dalam hati Sally memaki-maki Andi. Ia tahu betul siapa Ami dan bagaimana dia. Ami adalah gadis polos yang tidak pernah jatuh cinta kecuali pada Andi. Sally pun yakin Ami tidak akan menjual harga dirinya demi mengejar cinta seorang cowok. Sally ingin tahu apa mau Andi dengan pura-pura percaya.” Iya, masa sih nggak percaya? Ami itu hanya luarnya yang kelihatan polos, tapi dalamnya ganas banget. Kamu tahu nggak, waktu ketemu di mall, Ami duluan yang ngajak kenalan Andi”. Sally hanya diam mendengarnya, tapi dalam hati ia merutuk menahan kesal.” E…, Sally, sebetulnya,sejak pertama melihat Sally, ada perasaan tertentu di hati Andi. Andi rasa ini adalah cinta. Andi yakin Andi telah jatuh cinta pada Sally”, ketika mengatakan itu tangan Andi memegang tangan Sally. Sally membiarkannya karena jika menolak, dia khawatir itu akan mengacaukan penyelidikannya.” Ah, yang bener Ndi?” tanya Sally sambil pelan-pelan melepaskan pegangan Andi, perutnya terasa mual. Ia berusaha menahan diri untuk tidak memukul wajah makhluk di sampingnya itu.” Sumpeh deh, kalo Sally nggak percaya, Sally boleh membelah dada Andi sekarang juga!” kata Andi sambil membusungkan dadanya. Mendengar semua itu Sally semakin ingin muntah. Melihat Sally yang hanya diam Andi melanjutkan rayuan gombalnya,” Sally percaya dong ma Andi! Andi rela kok mutusin Ami demi Sally. Makanya tadi Andi mau minta tolong Sally tuk bilang ke Ami bahwa Andi ingin putus dari dia. Andi nggak tega jika harus ngomong sendiri, ntar takutnya di nangis lagi kayak kemarin waktu Andi mau putusin”. Sally masih diam. Hal itu membuat Andi tidak tenang dalam duduknya. Ia bergeser semakin menghadap Sally. Kini kedua mata mereka beradu. Sally hanya menatap kosong pada wajah Andi yang ternyata mulai penuh dengan jerawat-jerawat kecil yang kelihatan menyembul di balik polesan yang lumayan tebal. Sally baru menyadari bahwa ternyata Andi memakai bedak dan sangat kentara jika dilihat dalam jarak yang cukup dekat. Mungkin dia tidak menyadarinya karena karena ditutupi oleh kulit Andi yang lumayan putih dan warna bedak yang sesuai. Berarti dia ini memang seorang pesolek, pikir Sally.” Gimana Sall?” Andi semakin tidak sabar melihat Sally yang masih diam dan terus memandanginya. Pertanyaan itu membuat Sally tersadar dari lamunan. Tiba-tiba ia berdiri,” Aku pikir-pikir dulu deh!” jawabnya sambil beranjak meninggalkan Andi tanpa menoleh lagi.” Andi tunggu lho Sall!” teriak Andi, tapi Sally tak lagi menoleh, ia terus melangkah dan sibuk dengan kecamuk pikirannya.

Di rumah Sally langsung menuju kamar. Ia merebahkan tubuhnya tanpa melepas sepatu. Pikirannya masih melayang pada Ami dan Andi. Sally. Ia kembali terkenang kebersamaannya dengan Ami dari masa di Taman Kanak-kanak yang lugu hingga usia enam belas tahun, masa remajanya sekarang. Juga cinta monyet Sally yang diselingi tangis dan curhat rutinnya pada Ami. Meski masa cinta monyet kala itu tidak dinikmati Ami, Ami mampu memberikan petuah-petuah yang sangat berharga bagi Sally. Dan kini, persahabatannya dipertaruhkan dengan cinta pertama Ami. Sally takut untuk mengatakan ini semua pada Ami, tapi dia juga tidak mau sahabatnya dipermainkan Andi. Pikiran-pikiran itu membuat Sally lupa waktu. Malam yang mulai merambati hari tidak ia sadari. Dinginnya juga tidak ia rasakan. Matanya kini terpejam, tapi pikirannya masih terjaga tanpa sadar sekeliling.

* * * * *
B E R S A M B U N G

Label: ,

0 Komentar | @ 11.03

AKHIR SEBUAH PERAN (Bagian 1)

“Ami…” rajuk Sally,” ya, please…”, rajuknya lagi.” Gimana ya?”, goda Ami melihat temannya yang merajuk seperti anak kecil.” Boleh ya?”, tanya Sally lagi sambil mengguncang-guncang tangan Ami.” Aku kan penasaran mendengar temanku yang polos dan pendiem ini bisa dapat cowok anak kuliahan yang umurnya beda empat tahun. Kan aneh gitu, paling nggak ya temen sekelas lah ato malah dijodohin, lha ini, kenal di mall? Jangan-jangan, cowokmu bopeng ya? Hehehe” goda Sally.” Enak aja!” sungut Ami.” Makanya, klo gitu kenalin dong! Biar aku nggak mikir yang macem-macem! Masa punya pacar ganteng nggak dikenalin ma temenmu dari kecil yang cantik ini?”. Ami terdiam sebentar, tapi wajahnya tersenyum apalagi melihat wajah memelas Sally, akhirnya” Baiklah!”.” Ye…, Ami cantik deh!”, teriak Sally, girang.” Tapi janji,…”kata Ami tiba-tiba.” Apa?”.” Jangan sampai kamu curi perhatiannya, ingat, dia pacarku!”kata Ami dengan penuh ancaman.” Oke-oke, aku akan menepati janji, tuk…merebut pacarmu!” goda Sally.” Apa? Awas ya!”, teriak Ami, lalu dia mengejar Sally yang mencoba bersembunyi, kamar Ami yang lumayan besar itu kini riuh oleh teriakan dan jeritan menghiasi hari yang menjelang malam.

* * * * *

Siang itu Sally sudah berada dalam kamar Ami karena pacar Ami janji akan datang.” Mi, siapa sih nama cowokmu?”, tanya Sally sambil mendekati Ami yang sibuk dandan.” Andi, kenapa? Awas lho!” jawab Ami masih sibuk bercermin.” Enggak-enggak, tenang aja! Tapi…, klo si Andinya yang mau sama aku, jangan marah lho!”.” Ih…, mas Andi bukan tipe kayak gitu ya, nggak mungkin dia akan mengkhianatiku, ngaco kamu!” jawab Ami kesal.” Iya deh, iya, mas Andi adalah cowok tersetia di dunia!”, teriak Sally seperti orang yang tengah berdemo di depan gedung DPR. Amipun mencubit Sally, lagi-lagi terjadi pergulatan, tapi tiba-tiba kegaduhan itu berakhir ketika bel pintu meraung-raung.” Andi!” teriak Ami dan Sally hampir bersamaan lalu keduanya berhambur lari ke pintu depan.” Hai sayang,” kata cowok yang lumayan cakep itu setelah pintu di buka. Andi adalah cowok yang berpenampilan rapi dan terlalu wangi untuk ukuran cowok. Badannya yang lumayan kerempeng diimbangi tingginya yang pas, jadi tidak terlalu terlihat kurus kering, setidaknya itu pendapat Sally begitu melihat Andi.” Hai Ndi,” balas Ami,” Ayo masuk dan silakan duduk tuan muda!” goda Ami.” oh ya, kenalin ni temen Yayang dari kecil ampe sekarang kelas 1 SMA, namanya Sally”.” Sally” kata Sally yang sedari tadi bengong, ia menerima uluran tangan Andi.” Andi”, kata Andi,” Cantik juga ya,” kata Andi kemudian.” Duh, Yayang cemburu nih!”, rajuk Ami sewot, sedangkan Sally hanya tersenyum malu.” Hahaha, Yayang, Yayang,Yayang jangan cemberut gitu dong! Yayang jangan kuatir, buat Andi, Yayang Ami adalah cewek yang tercantik” kata Andi sambil mencubit pipi Ami. Sally hanya tersenyum melihat adegan itu, sedangkan yang dicubit makin mesra menggandeng tangan kekasihnya.

* * * * *

Sejak perkenalannya dengan Andi, Sally menjadi agak bimbang. Andi menjadi sering menelphonnya untuk hal-hal yang kecil. Sally merasa aneh karena hal-hal yang ditanyakannya bukan soal Ami, tapi hanya apakah dia sudah makan, sedang apa, atau hal-hal yang disukai Sally. Ada perasaan takut yang merayapi hatinya, jangan-jangan Andi itu playboy dan hanya ingin mempermainkan Ami, sahabatnya, pikir Sally. Sally ingin mengatakan itu pada Ami, tapi melihat cinta Ami pada Andi, Sally ragu kembali. Ami terlihat begitu mencintai Andi, setiap hari Sally selalu mendengar Ami bercerita tentang Andi. Ami tampak begitu bahagia ketika bercerita, itu terlihat benar di mata indah Ami. Apalagi Sally tahu Andi adalah cinta dan pacar pertama bagi Ami, Ami yang dikenalnya begitu pendiam dan polos.” Tidak, aku tidak boleh mengatakan pada Ami tentang Andi yang sering menelphonku”, putus Sally akhirnya.” Kriing…, kriing…”, dering telphon membuyarkan lamunan Sally, segera ia mengangkat gagang telphon yang berada di meja tepat di samping tempat tidurnya.” Halo,”sapa dari seberang begitu telphon diangkat.” Halo, ada yang bisa saya bantu?”, jawab Sally.” Sally kan? Ni Andi, tentunya masih inget kan?”.” Oh kamu, ya ingetlah wong baru tadi pagi nelphon dan ini juga siang belum berlalu lama, ada apa?” jawab Sally agak ketus.” Duh cantik-cantik kok galak sih? Gini, e…., nanti siang Sally ada acara nggak?”, tanya Andi terdengar agak gugup.” Nggak, emang kenapa?”, tanya Sally ogah-ogahan.” Gini, gimana kalo kita jalan? Di taman misalnya?”.

Sally terhenyak mendengar ajakan itu, mau apalagi ni orang? Tapi, kuterima aja tawarannya, aku ingin tahu apa mau ni orang, katanya dalam hati.

“Gimana ya?”, tanya Sally mencoba memancing reaksi Andi.” Ayo dong Cantik, aku kan nggak minta macem-macem, masa jalan gitu aja nggak bisa?”, rayu Andi. Sally merasa ingin muntah mendengar kata-katanya.” Ya udah, jadi di mana?”, jawab Sally akhirnya walau hatinya memaki-maki.” Oke, kita ke taman kota aja, kan dekat tuh dari rumah Sally. Andi jemput atau ketemuan di sana?” , tanya Andi girang. Ih, nggak niat banget, pikir Sally,” Ketemuan di sana aja, jam empat!”.” Bener nih nggak mau Andi jemput? Ya udah, Andi tunggu di sana, jam empat! Sally cantik deh, mau jalan ma Andi”. Sally makin muak mendengarnya,” Jadi nggak nih? Kok nggak ditutup-tutup? Aku kan mau siap-siap, ni dah jam berapa?”.” Oke-oke, Andi tutup, Sally jangan ngambek dong, jangan dibatalin ya acaranya!”, rayu Andi,” Ya udah, Andi tutup nih, ampe ketemu di taman ya, Sally cantik,…daaa”, tak berapa lama kemudian terdengar gagang telphon diletakkan. Sally menghembuskan nafas panjang, kepalanya makin pusing. Tapi dia ingin tahu apa sebenarnya mau Andi dengan harapan dia bisa mengumpulkan banyak fakta pada Ami. Sally akhirnya memutuskan untuk mandi. Kakinya ia seret keluar kamar.

* * * * *
B E R S A M B U N G

Label: ,